Unimma FM: Cukai Rokok Naik Akhir September,  MTCC Unimma Dukung kenaikan Untuk  Kesejahteraan Petani

Mahelang_MTCC Unimma mengelar Press Conference  Dukungan petani terhadap kenaikan cukai rokok untuk meningkatkan kesejahteraan, di Lt.2 Fakultas Hukum Unimma. Jum at , (18/09/2020).

Penerimaan cukai merupakan pendapatan terbesar ke tiga bagi penerimaan negara. Dimana 95 persen berasal dari cukai hasil tembakau. Tahun 2019 pendapatan pemerintah dari cukai sebesar Rp. 164 an triliyun , kemudian tahun 2021 akan di naikkan menjadi 172 triyulan.

Terkait dengan hal tersebut, Mentri keuangan Sri Mulyani mengeluarkan Peraturan Mentri Keuangan PMK nomor 152/PMK.010/2019 tentang cukai hasil tembakau. Berdasarkan hal tersebut pemerintah akan menaikkan cukai rata-rata 21,55% mulai Januari 2020. Sedang  pengumuman kenaikannya akan dilakukan sekitar akhir September 2020.

Fakta inilah yang memunculkan polimik disemua media terkait dengan pembagian dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) yang tidak tepat sasaran.

Salah satu petani dari Kledung Kabupaten Temanggung mengatakan “Berkali kali kami dipanggil dinas pertanian dan horti,  kita diberi bantuan mosa dlm 1 hektar 12 , dibagi sekian kelompok , padahal modal yang diperlukan sekitar 37 juta belum termasuk pupuk”.

Lanjutnya ” Lebih baik Kami para petani tidak usah diberi bantuan pupuk, plastik dan lainnya, tapi dana DBHCHT nya disimpan dulu, cukup nanti pas kami panen raya  dana  tersebut digunakan untuk membeli hasil panen raya bawang kami saja , dengan harga sedikit diatas BEP kami, cukup itu saja”.

Namun yang terjadi  ketika kami panen raya,  bawang kami harganya anjlok karena justru pemerintah malah impor bawang dari China dan dijual ke masyarakat dengan bawang kating besar , putih bersih  dan harga jauh lebih murah.

Sedang Pak Panggung petani Bawang  di leren Gunung Sumbing  ” Dengan modal 30an juta  sudah hampir 5 bulan bawang putih hasil panen raya saya belum laku,  masih numpuk sampe sekarang, karena ketika kami panen raya, pemerintah justru impor bawang putih dari luar negri”.

Kenyataan tersebut menjadikan DBHCHT justru lebih berorientasi pencapaian target penerimaan daripada pengendalian atau pembatasan konsumsi rokok dan tidak ada upaya peningkatan kesejahteraan petani.

Terkait dengan polimik tersebut, MTCC Unimma sebagai organisasi yang focus pada kesejahteraan petani melalui forum petani multi kultur berupaya menyuarakan aspirasi petani dengan mengirimkan surat kepada presiden dan kementerian terkait  ditengah polimik cukai tersebut.

Tergabung dalam forum petani tembakau menganalisis masalah cukai dengan konsentrasi pada pemanfaatan Dana DBHCHT mengacu pada PMK nomer 7 tahun 2020 , alokasi DBHCHT tersebut digunakan dalam lima kegiatan. Meliputi peningkatan kualitas bahan baku pembinaan industri, Pembinaan lingkungan sosial, sosialisasi kebutuhan dibidang cukai, dan pemberantasan barang cukai ilegal.

Maka dengan adanya kenaikan cukai ini,
Ketua MTCC UNIMMA Dra Retno Rusjianti M.Kes mengatakan ” kami bersama forum petani multikultur menyatakan mendukung dengan catatan  bahwa semestinya pemerintah merumuskan rencana strategis yang berbasis kesehatan petani, tidak semata menonjolkan peran industri hasil tembakau saja. “

DBHCHT harusnya kembali pada pemangku kepentingan, seharusnya peruntukkannya lebih focus untuk petani dan buruh tembakau oleh karenanya, para petani memberi dukungangan kenaikan cukai dengan catatan bahwa semestinya pemerintah merumuskan rencana strategis yang berbasis kesehatan petani, tidak semata menonjolkan peran industri hasil tembakau saja.

Fakta bahwa sampai saat ini petani tembakau selalu ada dipihak yang dirugikan , demikian juga petani multikultur dimana harga panen sayur berbagai jenis harganya sangat rendah. Menunjukkan bahwa belum ada dukungan kebijakan yang sinergis untuk peningkatan kesejahteraan petani.

Mengapa pemerintah menaikkan cukai tembakau ?  Masih menurut Bu Retno ,
” Adalah untuk mendukung  pemulihan ekonomi nasional ditengah pandemi Covid terutama di aspek Ekonomi”.

Bu Retno menambahkan
“Cukai rokok mempunyai banyak manfaat dan dampak,selain mengurangi konsumsi rokok terutama bagi para pemula ,karena kalau cukai rokok naik maka anak- anak remaja akan eman-eman membeli rokok, dan  harga rokok semakin mahal maka pendapatan negara juga semakin meningkat”.

Menilik saran Hasbullah Thabrany (2020) peneli di center for health economics and health policy,   Agar pemerintah mengalokasikan 5-10 persen pendapatan cukai  rokok untuk program pendampingan petani tembakau untuk alih profesi. Kebijakan tersebut selaras dengan keinginan pemerintah untuk menurunkan konsumsi rokok seperti yang dilakukan negara lain di dunia.

Dana tersebut bisa dialokasikan  untuk program pendampingan petani memalui Mentri pertanian  sebagai lembaga yang membina para petani. Dapat berupa bantuan manajemen petani dalam membudidayakan  komiditas berpeluang di ekspor. Pemerintah semestinya mengakomodasi kebijakan tersebut dalam aturan yang memprioritaskan kebutuhan petani.

Tidak hanya berkisar memberikan bantuan pupuk atau bibit diawal musim tanam, tidak memperhatikan mutu bahan baku, upaya pengembangan teknologi pertanian sehinggaenurunkan biaya produksi petani.

Mengapa pemerintah menaikkan cukai tembakau ? Adalah untuk mendukung  pemulihan ekonomi nasional ditengah pandemi Covid terutama di aspek Ekonomi.

Masih menurut  Bu Retno
“Cukai rokok mempunyai banyak manfaat dan dampak,selain mengurangi konsumsi rokok terutama bagi para pemula ,karena kalau cukai rokok naik maka anak- anak remaja akan eman-eman membeli rokok, dan  harga rokok semakin mahal maka pendapatan negara juga semakin meningkat”.
.
by.@rintadwirahma

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *