Search

Ungkap Hiu Karang Punah Secara Fungsional di Lautan Bumi

Kerabat muda saat ini peneliti melakukan survei besar-besaran terhadap terumbu karang yang ada di seluruh lautan di Bumi. Mereka menemukan hasil mengejutkan yang menunjukkan adanya penurunan populasi hiu karang. Selama tiga tahun, hampir tidak ada hiu sama sekali yang tercatat di 19 persen terumbu karang yang dipantau. Artinya, predator terumbu karang ini telah punah secara fungsional di delapan negara. Seperti dikutip dari Science Alert, Jumat (24/7/2020), penyebab punahnya hiu karang ini diduga akibat penangkapan ikan yang berlebihan dan diperburuk oleh populasi manusia di pantai yang kian padat. Baca juga: Megafauna Hiu Terancam Punah Ancam Ekosistem Laut, Ini Penyebabnya Temuan tim juga menunjukkan bahwa kebijakan konservasi dapat ditetapkan untuk membantu memulihkan dan mengelola populasi hiu karang. Selama beberapa dekade, sebagian besar data populasi hiu yang diperoleh tidak sempurna dan tidak termasuk hiu di daerah seperti di perairan pantai yang dangkal, yang meliputi ekosistem karang. Survei Global FinPrint dibentuk untuk mengatasi kesenjangan data tersebut. Lembaga-lembaga di Australia, Kanada dan Amerika Serikat bekerja sama untuk menyebarkan video di 371 terumbu karang di perairan 58 negara

Perannya punah dalam ekosistem karang Lebih dari 3 tahun, para peneliti memperoleh lebih dari 18.000 jam video bawah air untuk mengukur aktivitas hiu karang. Asumsi mereka, hiu karang akan ada di semua ekosistem karang di seluruh perairan di Bumi ini. Namun, peneliti terkejut, sebab hampir tidak ada hiu sama sekali yang diamati pada 69 terumbu karang di enam negara. Di antaranya di Republik Dominika, Hidia Barat Perancis, Kenya, Vietnam, Antillen Belanda Windward dan Qatar. “Di negara-negara tersebut, hanya tiga hiu karang yang diamati selama lebih dari 800 jam survei,” kata ahli biologi kelautan Colin Simpfendorfer dari James Cook University di Australia.

Simpfendorfer mengatakan hal ini tidak berarti tidak pernah ada hiu di terumbu karang tersebut. Akan tetapi, yang dimaksud dengan hiu ‘punah secara fungsional’, yakni mereka tidak memainkan peran normal dalam ekosistem. Hiu memiliki peran yang sangat penting di lautan dunia. Predator ini membantu menjaga populasi spesies mangsa mereka tetap sehat dengan melahap individu yang lebih lemah. Selain itu, hiu karang juga menjaga keanekaragaman hayati dengan menjaga populasi spesies lain agar tetap terkendali. Akan tetapi, hiu berkembang biak dengan sangat lambat dan menghasilkan keturunan yang relatif sedikit. Baca juga: Sakit atau Lapar, Kisah Pengalaman Diserang Hiu Putih Saat Memancing Spesies yang tumbuh dan bereproduksi lebih lambat, cenderung sangat rentan terhadap penangkapan ikan berlebihan oleh manusia, dan membutuhkan waktu yang lama agar populasi kembali pulih. Ahli ekologi dan co-lead Global FinPrint Demian Chapman dari Florida International University mengatakan, penelitian ini menunjukkan dampak negatif manusia yang substansial pada populasi hiu karang. “Namun, jelas masalah utamanya ada di persimpangan antara kepadatan populasi manusia yang tinggi, praktik penangkapan ikan yang merusak dan tata kelola yang buruk,” kata Chapman. Negara-negara dengan aktivitas hiu karang yang lebih tinggi dari rata-ratam yakni di Australia, Bahama, negara federasi Mikronesia, Kepulauan Solomon, Polinesia Perancis, Maladewa dan Amerika Serikat.

Peneliti mengungkap negara-negara ini cenderung mengatur dengan baik, memiliki manajemen perikanan hiu yang kuat atau tempat konservasi hiu. “Negara-negara ini melihat lebih banyak hiu di perairan mereka karena mereka telah menunjukkan tata kelola yang baik dalam masalah ini,” kata ahli biologi kelautan Aaron MacNeil dari Universitas Dalhousie, penulis utama dari makalah yang diterbitkan di jurnal Nature ini. Kendati demikian, penelitian ini menawarkan tempat untuk mulai menemukan solusi bagi kelangsungan hidup predator penting dalam ekosistem laut di Bumi ini. “Sekarang survei telah selesai, kami juga sedang menyelidiki bagaimana hilangnya hiu dapat merusak ekosistem terumbu karang,” kata biolog kelautan dan co-lead Global FinPrint, Mike Heithaus dari Florida International University.

Sumber:Kompas.com




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *