Tren Barang Lawasan Peninggalan Belanda

(UnimmaFm) Magelang-Nilai suatu benda atau barang yang pernah tren pada masanya kembali bergengsi saat ini. 

Termasuk barang jadul atau jaman dahulu dan barang antik, kini menjadi gengsi tersendiri. Barang-barang tersebut tidak mudah diperoleh karena memang langka dan terbatas.

Banyak rumah makan, kafe bahkan hotel kembali menyuguhkan barang jadul dan barang antik sebagai ornamen display karena menghadirkan sensasi tersendiri bagi pengunjung yang datang, yaitu nostalgia.

Salah satu “pemain lawas” barang jadul dan antik di Magelang, Arif Puspawijaya, mengaku mulai terjun ke dunia barang antik lebih dari satu dekade ini. Dan akhir-akhir ini dirinya lebih fokus berburu benda atau barang yang berbau kolonial Belanda.

Arif mengawali karir di bidang lawasan dari bisnis barang rongsok atau bekas sejak 2006, kemudian pada tahun 2008 mulai jual beli barang jadul dan antik. Dan puncaknya pada 2016 dirinya mulai merambah ke barang kolonial peninggalan penjajah Belanda.

“Di Magelang masih jarang pedagang lawasan yang menjual barang era kolonial Belanda, kebanyakan jualan barang jadul. Mulai tahun 2016 saya sudah menjual barang kolonial, mulai dari konsol besi, lantai ubin, pintu, jendela, kusen, teralis dan lain-lain bekas dari bangunan jalan Belanda,” terang Arif, yang membuka galeri lawasan di tempat tinggalnya Sambung Lor, Kecamatan Secang Kabupaten Magelang.

Namun saat ini perburuan barang kolonial terbentur dengan perda cagar budaya yang mengatur tentang kelestarian bangunan kolonial, sehingga tidak semua bangunan dapat dibongkar.

“Khususnya bangunan di dalam kota atau bangunan kolonial yang dijadikan kantor-kantor pemerintahan wajib dijaga keasliannya.

Tapi masih banyak juga bangunan lawas di pedesaan, jadi masih ada bahan untuk berjualan barang kolonial,” jelas Arif, yang pernah berprofesi sebagai guru.

Arif mengungkapkan, peminat barang lawasan kolonial dari kalangan ekonomi menengah ke atas, yang mengagumi seni arsitektur bangunan lawas. Banyak di antara pelanggannya yang mendesain tempat tinggalnya menyerupai bangunan lama.

“Selain menyediakan barang bekas bangunan kolonial, saya juga menjual perabotan zaman dulu, untuk isian rumah yang bergaya kolonial,” papar Arif.

Untuk mencari barang kolonial, Arif melakukannya hingga keluar kota, diantaranya daerah Malang, Semarang, Surabaya Kebumen, Klaten, Yogyakarta, Purwokerto, Gresik dan lokasi lain yang dulu pernah dijadikan wilayah perkotaan oleh Belanda.

“Paling banyak pernah belanja hingga 52 juta rupiah saat keluar kota, kalau paling sedikit pernah cuma 100 ribu rupiah, karena barang yang dicari nggak ada,” ungkapnya.

Barang lawasan dibedakan dua jenis, yang pertama barang jadul, dimana kita pernah mengalami keberadaan barang tersebut, dan yang kedua barang antik, barang itu sudah ada sebelum kita lahir dan tergolong langka.

Ia berharap di Magelang mempunyai pasar seni atau tempat khusus sentra jual beli barang jadul atau barang antik, sehingga menjadi objek atau daya tarik wisata tersendiri.

“Kebanyakan di kota-kota besar sudah ada, kalau di Magelang belum ada tempat resminya padahal pedagang lawasan jumlahnya lumayan,” kata dia.

.

(Chan.Mi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *