Talkshow KPSI Magelang: Luka Batin Pada Anak, Sebabkan Perilaku Negatif Hingga Dewasa

Semua orang tua, pasti pernah merasakan posisi kala menjadi anak. Saat dulu masih anak-anak, pernahkah merasa marah, jengkel, sakit hati bahkan dendam dengan orang tua sendiri, baik ayah maupun ibu? Bahkan yang lebih parah, pernahkah memiliki luka batin atau trauma mendalam?

Jangan remehkan luka batin pada anak. Semua pasti setuju bahwa menjadi orang tua memang susah-susah gampang, atau gampang-gampang susah. Begitu banyak teori dan buku yang menuliskan bagaimana menjadi orang tua yang baik, tapi nyatanya mendidik anak tak semudah membalik telapak tangan.

Mengobati luka batin pada anak adalah tema Talkshow dengan KPSI simpul Magelang di Radio Unimma Jum at (14/8). Mengapa tema ini diangkat?
Menurut Ibu Ns. Sambodo Sriadi Pinilih, M.Kep Relawan KPSI Magelang sekaligus dosen Fikes Unimma, karena Relawan sering mendapati kasus pasien ketiaka “Pasien waktu berkonsultasi selalu menginformasikan, dulu waktu saya kecil…, Atau ibu bapak saya saat saya kecil memperlakukan saya dengan…serta dulu masa kecil saya…, hampir sebagian besar pasien yang kami dampingi selalu berawal dari cerita masa kecil…,artinya kan ada sesuatu yang bermasalah dalam masa kecil dari para pasien kami, yang perlu diselesaikan dengan profesional kesehatan yang sesuai kebutuhan pasien”.

Terkadang sempat terbersit dalam hati, andai saja hidup bisa diulang, ingin rasanya mendidik anak dari awal dengan pemahaman yang sekarang. Harapannya adalah untuk memperbaiki semua kesalahan yang sudah terlanjur dilakukan dalam mendidik buah hati. Namun sang bijak mengatakan, tak ada kata terlambat. Melakukan perubahan ke arah lebih baik, pasti akan menghasilkan sesuatu yang baik pula.

Menurut Dr Riana Mashar M.Si.Psi. dalam Talkshow bersama KPSI Simpul Magelang di radio Unimma FM “Menjadi orangtua adalah belajar sepanjang hayat, jadi kesalahan mendidik pada orang tua kepada anaknya adalah karena kita tidak mumpuni dan dibekali ilmu yang baik dan benar, sehingga kesalahan sebagai orangtua itu sangat wajar terjadi, menjadi tidak wajar jika orangtua tidak mengakui kesalahannya kepada anak, dan yang lebih parah lagi adalah orangtua sudah tau melakukan kesalahan tidak mengakui dan tidak mau memperbaiki kesalahan tersebut”.

Bagaimana luka batin pada anak bisa terjadi?
Usia anak dari 0 – 6 tahun pertumbuhan otak nya adalah pada gelombang delta. Pada gelombang ini memungkinkan otak anak langsung menyerap semua hal yang terjadi disekitarnya, baik hal buruk dan baik yang akan mengendap dialam bawah sadarnya. Sehingga jika pola pengasuhan orangtua salah, perlakuan saudara kandung atau orang-orang disekitarnya tidak menyenangkan maka ingatan buruk tersebut akan membekas masuk ke alam bawah sadar anak dan menjadikan luka bathin atau trauma pada anak.

Pengalaman kanak-kanak yang tidak menyenangkan atau kurangnya pengasuhan dalam keluarga dapat terus membekas dalam diri seseorang. Saat tumbuh dewasa, hal ini bisa bermanifestasi dalam berbagai bentuk perasaan dan perilaku negatif. Mulai dari perasaan tidak dicintai, mudah cemas, sulit percaya orang lain, dan sebagainya.Apabila terus dibiarkan, inner child yang terluka dapat menghambat perkembangan diri anak sampai menjadi dewasa. 

Inner child adalah sisi kepribadian seseorang yang terbentuk dari pengalaman masa kecil. Bisa juga diartikan sebagai sosok anak kecil yang masih melekat dalam diri kita.Semua orang pasti bertambah tua. Namun faktanya, tak semua orang dapat menjadi dewasa.

Lalu apakah orangtua harus selalu berada disekitar anak-anak dalam tumbuh kembangnya, jika memungkinkan dan pola asuh orangtua baik dan benar pasti itu adalah hal terbaik. Namun itupun bukan berarti ketika mreka bersosialisasi dengan keluarga besar, teman dan lingkungannya akan terlindungi dari berbagai ancaman ketidak nyamanan yang mungkin akan dialami anak.

Bagaimana sebaiknya sebagai orangtua dalam bersikap?, Masih menurut Ibu Riana yang juga seorang konsultan pendidikan Paud “Anak anak tidak perlu dibentengi dari dari luka, tapi sebagai orang tua jadilah role model bagi anak, sebagai pribadi yang bisa memberikan contoh yang baik dalam melalui segala macam situasi baik yang menyenangkan maupun yang tidak”.
Sehingga mereka melihat bagaimana orangtua merespon keadaan dengan sikap yang baik sehingga akan anak melihat, mengamati dan akan meniru jika suatu saat nanti bereaksi terhadap suatu keadaan.

Kitapun bisa mengambil teladan dari kisah Nabi Muhammad SAW dimana masa kecilnya sudah ditinggal kedua orangtuanya diasuh oleh pamannya yang kemudian diajarkan berpedagang sesuai pekerjaan sang paman, sedang kasih sayangnya diperoleh selain dari paman adalah kakeknya Abdul Muntholib, namun justru kesulitan ketidaknyamanya dimasa itulah, menjadikan beliu tauladan bagi seluruh umat manusia. Kemudian nabi Isa, nabi Ismail dan tauladan lainnya yang berangkat dari ketidaknyamanan nya di masa anak-anak tetap menjadikan mreka menjadi tauladan hingga kini, imbuh Dosen FKIP di Universitas Muhammadiyah favorit di Jogja tersebut.

Ketika ada pertanyaan dari pendengar Laila dari aplikasi WhatsApp di 0811 2533 876 tentang “Bagaimana jika pengasuhan anak diserahkan kepada ibu atau kerabat karena ditinggal bekerja kedua orangtuanya, adakah kemungkinan luka bathin yang dirasakan si anak” Doktor Riana yang juga ketua Himpsi himpunan psikologi se Eks Karisedenan Kedu tersebut menjelaskan “Selama dititipkan dilingkungan yang baik dan kita tau bagaimana lingkungan tersebut, masih relatif aman, namun orangtua juga jangan kemudian melakukan pembenaran diri karena bekerja, mereka harus tetap memberikan jaminan kwalitas terbaik hubungan ortu dan anak karena hubungan emosi, sentuhan, pelukan, kehadiran , support dan penerimaan tidak dapat tergantikan dengan materi atau bantuan hp sekalipun”.

Lalu bagaimana Jika sudah terlanjur ada luka bathin pada anak, “maka sebagai orangtua mintalah maaf, tanpa ada kata tapi, maaf ya…ibu/bapak memang bersalah sudah cukup sampe itu saja, jaangan bilang, ibu minta maap ya…tapi kan ibu bapak kerja dan seterusnya..” imbuh Bu Riana,

Mengapa tidak boleh ada kata “tapi” hal tersebut karena “Anak menganggap bahwa ibu atau bapaknya tidak benar-benar meminta maaf dengan tulus karena ada tapi atau alasan pembenaran dari ortu.” tambah Bu Riana.

Setelah minta maaf, Untuk bisa lepas dari luka batin masa kecil, ada 3 poin yaitu penerimaan, memaafkan, dan merubah framing dari ingatan yang tidak baik ke sisi yang baik. Hal ini senada dengan pertanyaan dari pendengar tentang” ketakutannya ketika mendengar suara dengan nada tinggi, hingga tangannya berkeringat “bisa jadi ini berasal dari Bapaknya yang bernada tinggi, kemudian dia punya framing dalam dirinya bahwa semua laki-laki adalah galak, kasar dan sikap negatif lainnya.

Frameiing ini harus diubah , Misal framming nya “Bapak saya tegas dan galak”, kemudian framingnya diubah menjadi “oh iya bapak saya memang galak dan tegas…namun saya ‘menerima’ karena ketegasan bapak, galaknya bapak kepada saya semata karena beliau adalah kepala rumah tangga, banyak yang sudah dilakukan bapak untuk saya, membiayai saya dari bayi hingga sekarang ini, bertanggung jawab kepada keluarga dan kebaikan lainnya yang amat banyak tidak terhitung.”

Menutup Talkshow siang itu Bu Riana mengakhirinya dengan “Sampai ada meme kan ukuran kekayaan seseorang itu bukan kemiskinan, namun adalah cukup.
Jadi untuk bisa lepas dari luka masa lalu semua adalah keputusan kita, mau sehat atau sakit, mau baik atau buruknya anak kita, itu adalah pilihan”.

Tentang KPSI
Menurut Ns. Sambodo Sriadi Pinilih, M.Kep yang juga Relawan, KPSI adalah Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia adalah komunitas nirlaba yg bergerak utk mendampingi orang dengan gangguan jiwa (Sizofrenia) dan keluarganya. Dengan program kegiatannya adalah sosialisasi, edukasi dan advokasi terkait isue2 masalah kesehatan jiwa. yang bertujuan supaya orang dengan gangguan jiwa mendapatkan hak haknya dan mampu mandiri dan produktif dimasyarakat.

Anggota adalah Pasien, keluarga pasien dan disupport oleh psikolog, psiater ,dokter, relawan maupun Profesional kesehatan lainnya se Eks Karisedenan Kedu.

Program Talkshow KPSI disiarkan di 87,6 Unimma FM setiap hari Juma t jam 10 siang setiap.minggu.le 2 dan ke 4 setiap bulannya.
Program ini menjadi rujukan bagi Para Nakes tenaga kesehatan kejiwaan Puskesmas, Penggiat kejiwaan , kader keswa kader kesehatan jiwa di desa maupun penggiat pemerhati kesehatan jiwa pada umumnya, serta masyarakat secara umum untuk mengedukasi ,mengetahui issue terkini, perkembangan ilmu kejiwaan serta penanganan dasar terkait kesehatan jiwa.

By. Rinta
IG @rintadwirahma
fb Rinta D’twins

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *