MTCC Unimma: Petani Tembakau Beralih Tanam Ubi jalar, Tembus Pasar Mancanegara

Sekarang petani bisa berdaulat , bisa menentukan harga sendiri sehingga tidak bergantung pada harga tengkulak yang cenderung merugikan.

Istanto petani asal Windusari, Semula adalah petani tembakau karena secara turun temurun dari nenek buyutnya sudah menanam tembakau. Sejak tahun 2013 beralih tanam menjadi ubi jalar, kopi dan sayuran lainnya. Hal tersebut dilatar belakangi oleh pengalaman menanam tembakau yang sudah dilakukan bertahun tahun selalu merugi, hal tersebut selain karena faktor cuaca dan tata niaga tembakau yang buruk sehingga harga yang tidak menentu, ketika hasil tembakau pada kwalitas terbaik justru harga semakin anjlok, bahkan jika petani menjual dalam kemasan kranjang 55 kg , oleh tengkulak hanya di hitung 50 kg dan 5 kg nya hilang tidak dihitung. Hal tersebut dikatakannya di dalam konferensi pers hasil penelitian petani tembakau di Jawa Tengah yang digelar Muhammadiyah Tobacco Control Center (MTCC) Universitas Muhammadiyah Magelang, Sabtu (25/7).

Karena harga jual tembakau itu tidak menentu, maka sekarang banyak yang beralih pada komoditi sayuran meskipun perbandingan biaya tanam agak sedikit jauh. Katakanlah 0,1 hektare kita bisa tanam tembakau dengan biaya Rp 1 juta, maka untuk menanam cabai belum dapat. Mungkin bisa memakan biaya mencapai Rp 5 juta,” menurut pak Yamidi Petani tembakau yang beralih tanam ke kopi , cabe dan sayuran lainnya.

Sedangkan menurut pak Istanto ” jika menanam ubi jalar modalnya lebih sedikit lagi , tenaga kerja juga tidak sebanyak menan tembakau dan cabe, serta minim serangan hama, hasilnya lebih menguntungkan karena lebih pendek usia tanamnya sehingga bisa panen berkali kali.”

Alih tanam dari tembakau ke ubi jalar yang dilakukan oleh pak Istanto , semula hanya coba-coba untuk sekedar mencari alternatif tanam karena mulai tahun 2012 menanam tembakau selalu merugi. Ternyata Alih tanam dari tembakau ke ubi jalar yang kemudian dinamakan ubi madusari yaitu ubi madu asal Windusari tersebut, mempunyai kwalitas yang lebih baik dibandingkan ubi jalar pada umumnya, karena ditanam di daerah ketinggian 1000 dari permukaan laut.

Kekhassan produksi ubi ini dilirik pasar lokal seperti daerah Yogyakarta, Klaten, Jawa Barat termasuk Magelang sekitarnya. Baik untuk sekedar di masak dengan oven layaknya ubi Cilembu , bahkan dibuat kering yaitu dengan ubi yang digoreng dan ditumis bersama kacang tanah dan gula Jawa serta bumbu lainnya, ada juga kripik bahkan sedang diuji coba untuk dibuat tepung.

Dengan luas lahan 600 an hektar dari sekitar 12 desa di kecamatan Windusari, Pak Ismanto dan petani lainnya terus menanam ubi Madusari tersebut , sehingga setiap hari produksi ubi madusari selalu tersedia untuk mengisi pasar lokal bahkan hingga pasar manca negara yaitu Singapura dan Malaysia.
Dari hasil ubi sekitar 25 ton yang masuk kwalitas ekspor hanya sekitar 5 ton saja dengan harga Rp.10.000,- per /kg , sehingga sisanya untuk memenuhi pasar lokal dengan harga Rp.3.500,-/ kg. Disinilah maka kami ” para petani bisa berdaulat” .imbuh Ismanto

Perbandingan laba dengan luas tanam yang sama, ketika menanam tembakau laba Rp.1.500.00, -ketika alih tanam ke uni jalar laba menjadi Rp 6.600.000,- sedangkan jika alih tanam ke tanaman kopi laba menjadi Rp. 20.000.000,-. tambah Ismanto.

Kepada MTCC Unimma Pak Ismanto berharap ” Mohon Pendampingan terus dilakukan terkait bagaimana cara menjaga kwalitas ubi jalar yang berkualitas, packaging yang cantik serta pendampingan diversifikasi produk olahan ubi – ubian yang lain” .

Sedangkan Ketua MTCC Unimma Dra Retno Rusjianti M.Kes menyampaikan hasil riset ini ,
“Menunjukkan ketidakberdayaan petani tembakau biak internal maupun struktur sosial, perlunya upaya strategis dan mekanisme untuk menguatkan petani multikultur, prioritas skema kebijakan infrastruktur ekonomi pedesaan untuk pemulihan ekonomi, penguatan modal , kelembagaan, jejaring antar petani menjadi prioritas pemerintah.”

Tujuan dari penelitian petani tembakau di Jawa tengah ini dapat mengeksplor pengalaman petani tembakau yang beralih tanam ke tanaman lainnya tidak kemudian terpuruk , justru mereka meningkat kesejahteraannya. ” Dan tentu saja hasil penelitian ini ditujukan selain kepada masyarakat juga kepada para pemangku kebijakan Pemerintah daerah, provinsi maupun pemerintah pusat” ungkap Retno Rusjianti dalam sambutan pembukaan acara tersebut.
.
By. Rinta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *