Moyang Lumba-Lumba ternyata Predator Pasif dan Perenang Gesit

Kerabat Muda baru-baru ini para ilmuwan mengidentifikasi kerangka hampir lengkap dari nenek moyang lumba-lumba yang panjangnya 4,8 meter. Moyang lumba-lumba yang memiliki nama latin Ankylorhiza tiedemani diyakini hidup di zaman Oligosen, sekitar 25 juta tahun lalu di kawasan yang saat ini menjadi Carolina Selatan. Dalam penelitian ini, ilmuwan menemukan fakta menarik tentang moyang lumba-lumba. Jika lumba-lumba modern adalah sahabat manusia di lautan, moyangnya justru merupakan predator puncak di masanya.

Ankylorhiza tiedemani disebut sebagai hewan ekolokasi pertama yang diketahui. Hewan ekolokasi mengenali lingkungan dengan bantuan suara. Dilansir Science Alert, Minggu (12/7/2020), moyang lumba-lumba berukuran besar. Ia memiliki gigi-gigi besar yang menyerupai gading dan tampaknya mampu berburu dengan kecepatan tinggi seperti paus pembunuh atau orca. Menariknya, penemuan ini dapat membantu kita lebih memahami bagaimana kedua jenis paus modern yakni paus bergigi (lumba-lumba dan paus balin) dan paus bungkuk mengembangkan fitur penggerak mereka seperti sirip dan ekor. Kerangka Ankylorhiza tiedemani yang ditemukan tahun 1990-an ini merupakan kerangka pertama yang hampir lengkap dan berhasil dianalisis. Sebelumnya, makhluk ini hanya bisa dipelajari dari rostrum parsial atau moncong fosilnya saja. Ada banyak aspek kerangka yang ditemukan. Mulai dari bentuk tengkorak dan ekor, tulang lengan pendek atas sirip, dan bentuk gigi. Kerangka itu menunjukkan bahwa dua jenis paus modern, melakukan banyak evolusi dari fitur yang sama secara paralel dan independen satu sama lain. Fakta ini berseberangan dengan keyakinan sebelumnya yang menyebut mereka mewarisi fitur leluhur mereka.

Evolusi paralel ini terjadi karena lingkungan air yang sama yang mereka tempati. “Sejauh mana paus balin dan lumba-lumba secara mandiri beradaptasi secara paralel mengejutkan kami. Sebab, sebelumnya diyakini sifat-sifat ini berkembang dari nenek moyang mereka,” kata paleontologis Robert Boessenecker dari College of Charleston. “Seolah-olah penambahan tulang pada sirip dan di bagian sendi siku telah memaksa kedua kelompok besar cetacea menuruni jalur evolusi yang sama di bagian penggerak (sirip dan ekor).”

Meskipun kedengarannya jelas bahwa hewan di lingkungan yang sama akan berevolusi dengan fitur serupa, ini bukan pola seperti itu. Sebagai contoh, garis keturunan anjing laut dan singa laut yang berbeda. Keduanya mengembangkan mode berenang mereka sendiri dan berakhir dengan sangat berbeda. Lumba-lumba raksasa hidup sebagai predator kuno hingga 23 juta tahun yang lalu, sampai mereka punah. Sejak itu, paus dan lumba-lumba lain bergantian menjadi predator puncak. Namun saat ini, satu-satunya paus ekolokasi yang juga merupakan predator puncak adalah orca atau paus pembunuh. Studi ini telah dipublikasikan dalam Current Biology.

Sumber:Kompas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *