MDMC Kab Magelang Tanggap Merapi

(@876Unimmafm)  Magelang-Para relawan Muhammadiyah yang tergabung dalam Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, membantu memberikan pelayanan kebutuhan pengungsi dari Gunung Merapi.

Ketua Pos Koordinasi MDMC Kabupaten Magelang untuk Siaga Merapi Huda Khairun Nahar mengatakan ia mengelola satu selter pengungsi di Panti Asuhan Yatim Muhammadiyah (PAYM) Nglawisan, Kecamatan Muntilan.

“Total sekitar 820 warga kategori rentan bencana Merapi yang telah mengungsi, seperti lansia, anak-anak, dan perempuan di sembilan lokasi pengungsian,” katanya dalam keterangan tertulis, Rabu (18/11).

Selain itu, ia mendampingi Organisasi Pengurangan Resiko Bencana (OPRB) Desa Krinjing dan Deyangan dalam mengelola selter di Balai Desa Deyangan, mengelola satu pos koordinasi di Kantor PD Muhammadiyah Kabupaten Magelang dan lima pos pelayanan, masing-masing di Sawangan, Dukun, Srumbung, Mertoyudan, dan Muntilan, serta mendampingi warga Dusun Babadan, Desa Paten, Kecamatan Dukun, yang masih belum mengungsi.

Huda menyebut aktivitas vulkanik Gunung Merapi saat ini di level III atau siaga. Beberapa layanan yang sudah dijalankan selama ini oleh MDMC Kabupaten Magelang, antara lain manajemen posko, logistik, pendampingan psikososial, evakuasi, kesehatan, transportasi, dan dapur umum.

Dalam menjalankan layanan-layanan tersebut, MDMC Kabupaten Magelang didukung Lazismu, Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) serta Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) Pimpinan Daerah Aisyiyah Kabupaten Magelang.

“Dengan menerapkan One Muhammadiyah One Response (OMOR),” ujar dia.

Ia juga menyelenggarakan program khusus bagi warga kelompok rentan, yaitu Donasi Mainan Anak dan Buburmu. Ia menjelaskan Program “Donasi Mainan Anak” untuk menfasilitasi anak-anak di pengungsian dengan berbagai permainanan edukatif agar tidak kehilangan dunia bermain mereka.

Program “Donasi Mainan Anak” itu, kata dia, muncul dari keprihatinan melihat anak-anak warga Gunung Merapi di pengungsian tidak bisa bermain layaknya dalam kondisi normal.

“Berada di pengungsian dalam waktu lama, tentu membosankan bagi anak-anak. Oleh karena itu, kami berusaha menfasilitasi mereka agar dapat bermain dengan mainan edukatif sehingga mereka tidak bosan sekaligus mereka mendapatkan edukasi dari mainan tersebut,” katanya.

Ia menjelaskan tentang Program “Buburmu” berupa pembuatan bubur bagi anak-anak di semua titik pengungsian. Dari 820 jiwa yang mengungsi, ada 181 anak-anak yang membutuhkan makanan khusus berupa bubur.

Setiap hari, kata dia, tim dapur umum MDMC Kabupaten Magelang menyiapkan bubur untuk anak-anak tersebut di Pos Koordinasi MDMC di Gedung Dakwah Muhammadiyah Kabupaten Magelang, Kecamatan Mungkid, yang kemudian pada pagi hari didistribusikan ke semua titik pengungsian.

“Kebutuhan makan bagi anak-anak selama ini cenderung kurang diperhatikan saat terjadi bencana, mereka terpaksa mengonsumsi makanan yang sama dengan makanan orang dewasa yang sebetulnya kurang pas untuk mereka seperti mi instan contohnya,” katanya.

Program “Buburmu”, kata dia, tidak hanya terus-menerus membuat bubur putih sebagai makanan anak-anak. Namun juga jenis makanan lain, seperti bubur kacang ijo, jus buah, dan jenang.

“Ini bertujuan agar anak-anak tidak bosan dengan menu yang sama, juga sebagai variasi asupan gizi bagi mereka,” kata dia.

.

(Rol)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *