Letusan Tambora Ternyata Turut Lahirkan Sepeda

Kerabat muda tepat di tanggal 3 Juni ini, para penggemar sepeda memeringati Hari Sepeda Sedunia. Namun, tahukah Anda, dibalik ditemukannya teknologi kendaraan roda dua ini ada fakta unik yang tak banyak diketahui. Masih ingatkah Anda pada letusan Gunung Tambora? Gunung berapi yang berada di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat ini meletus maha dahsyat pada bulan April 1815 silam. Letusan vulkanik gunung ini telah tercatat sebagai sebagai ledakan dan bencana terbesar yang pernah ada dalam sejarah Bumi.

Dampak letusan gunung yang berada di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, itu begitu luas hingga 200 tahun kemudian. Bencana ini telah menyebabkan puluhan ribu orang tewas di sekitar pulau-pulau subur di Hindia Belanda, yang kini bernama Indonesia. Bahkan, dampak dahsyat letusannya juga dirasakan warga dunia di belahan Bumi lain. Debu-debu vulkanik dari letusan Gunung Tambora terbawa angin hingga ke Eropa dan benua lainnya.

Menghalangi sinar matahari dan menghasilkan musim dingin panjang di masa itu, serta membuat tanaman pangan tak bisa tumbuh bahkan bintang yang biasa membantu manusia banyak yang mati. Lantas, apa hubungannya bencana letusan Gunung Tambora dan sepeda? Dibalik bencana ini, ternyata memberi ide sederhana yang tak pernah disangka manfaatnya sangat besar dalam mengubah dunia. Salah satunya penemuan sepeda oleh seorang aristokrat dan penemu asal Jerman, Karl von Drais, seperti melansir Live Science, Rabu (3/6/2020).

Drais memulai debutnya sebagai penemu kendaraan roda dua pada tahun 1817, tepat dua tahun pascaletusan dahsyat Gunung Tambora. Drais membangun mesin untuk menanggapi masalah serius, akibat kelangkaan kuda karena dampak dari letusan hebat Gunung Tambora. Mesin yang diciptakan Drais kala itu, jauh berbeda dengan mesih aerodinamis cepat yang merupakan sepeda masa kini. Alat ini memiliki berat sekitar 23 kg, rodanya terbuat dari kayu, dilengkapi tempat duduk seperti penunggang kuda duduk di atas pelana kulit.

Bagian setang kayu juga belum tampak sempurna, serta tidak memiliki roda gigi dan pedal, sehingga pengendara harus mendorong perangkat ini ke depan dengan kaki mereka. Drais selanjutnya membawa penemuannya ini ke Perancis dan Inggris, di mana alat itu kemudian menjadi populer di negara tersebut. Draisienne, yakni mesin pengendara roda dua pertama yang ditemukan Drais menjadi bukti tak terbantahkan dari sejarah sepeda di masa itu. Melansir Encyclopedia Britannica, meskipun Drain menamakan perangkat ini dengan nama Laufmaschine atau mesin berjalan, namun draisienne dan velocipede menjadi nama yang lebih populer kala itu.

Kendati perangkat buatannya diberikan hak paten dan selanjurnya diproduksi massal di negara lain, termasuk Inggris Raya, Austria, Italia dan Amerika Serikat, namun desain sepeda terus berkembang lebih baik. Salah satunya, draisienne atau sepeda dengan model lebih baik yang dipatenkan oleh Denis Johnson dari London yang diproduksi pada tahun 1818 sebagai pedestrian curricle. Tahun berikutnya, dia menghasilkan lebih dari 300 unit perangkat tersebut dan selanjutnya dikenal sebagai hobby-horses. Sepeda versi Johnson dikenal sangat mahal dan banyak dibeli oleh kaum bangsawan. Karikaturis bahkan menyebutnya sebagai kuda pesolek. Kendati demikian, desain itu meningkatkan masalah kesehatan, dan mengendarai mobil terbukti tidak praktis kecuali di jalan yang mulus. Produksi Johnson berakhir setelah hanya enam bulan. Mode draisienne-hobby-horse yang singkat tidak mengarah pada pengembangan berkelanjutan kendaraan roda dua.

Akan tetapi, von Drais dan Johnson memastikan bahwa mesin-mesin beroda dua itu bisa tetap seimbang saat bergerak.

Selama 40 tahun ke depan, sebagian besar peneliti berfokus pada velocipedes roda tiga dan empat bertenaga manusia. Kata sepeda mulai digunakan di Eropa pada tahun 1868 untuk menggantikan nama vélocipède de pedale yang rumit. Velocipede pertama ditenagai pedal yang dipasang pada roda depan yang dikembangkan di Paris, Perancis pada awal tahun 1860-an.

Namun, tidak ada bukti konklusif yang menunjukkan siapa yang menerapkan ide untuk menerapkan pedal pada roda depan. Ada bukti bahwa Pierre Lallement, seorang mekanik Perancis, membangun dan mendemonstrasikan mesin semacam itu di Paris pada pertengahan 1863. Sejak saat itu, teknologi sepeda terus berkembang. Setelah 1900 penyempurnaan yang tak terhingga, dari bahan, desain rangka dan komponen, tetapi desain dasar sepeda tetap hampir statis.

Sumber: Kompas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *