Search

Lawan Covid 19 dan Intervensi Industri Rokok Melalui Budaya Tanpa Tembakau di Kalangan Generasi Muda

Hari ini, tanggal 31 Mei setiap tahunnya diperingati sebagai World No Tobacco Day atau Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS). HTTS tahun 2020 ini dengan tema global menyoroti Perlindungan Anak dari manipulasi Industri dan Penggunaan Rokok serta Nikotin. Selanjutnya, MTCC UMMagelang mempertajam topik HTTS dengan “Lawan Covid 19 dan Intervensi Industri Rokok Melalui Budaya Tanpa Tembakau di Kalangan Generasi Muda”.
.
Mengapa generasi muda? Beberapa kajian MTCC UMMagelang menunjukkan fakta parahnya capaian pembangunan SDM di Indonesia. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, prevalensi perokok anak-anak mencapai 9,1%. Angka itu naik dari angka pada 2013 yang hanya 7,2%.  Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 32,1% siswa Indonesia di rentang usia 10-18 tahun pernah mengonsumsi rokok (PKGR, 2019). Selanjutnya sebanyak 43,4% di antaranya mulai merokok pada usia 12-13 tahun (saat mengikuti pendidikan SMP).  Tujuan kami memang menciptakan generasi muda yang sehat dan cerdas,” kata Retno Rusdjiati Ketua MTCC UM Magelang.

Maka diperlukan edukasi yang sesuai dengan budaya anak muda agar tepat sasaran , Muhammadiyah’ Tobacco Control Center (MTCC) Universitas Muhammadiyah Magelang (UM Magelang), Sabtu (30/05/2020) dalam rangka rangkaian kegiatan HTTS tersebut Misalnya, dengan mengedukasi melalui jaringan sosmed dengan pesan ” pengen masuk syurga jauhi yang haram ” , juga pemasangan spanduk yang dipasang di kampus 1 maupun kampus 2 UM Magelang yang senada dengan kampanye. Ditambahkan Bu Retno bahwa ” sekarangpun dikawasan kampus , Mahasiswa yang merokok sudah jauh berkurang, apalagi sudah didukung keputusan rektor tentang pembatasan merokok di area kampus atau penerapan KTR dilingkungan kampus UM Magelang” .
Serangkaian peringatan HTTS dilakukan lebih awal yaitu mulai dari tanggal 30 Mei 2020 dengan Edukasi langsung ke Masyarakat di 8 titik di daerah kabupaten Magelang dan kota Magelang seperti pembagian masker, stiker lawan Covid 19 dengan stop merokok dan pembagian Snack di lampu merah Armada, lampu merah Secang, Pakelan Blondo dan titik lainnya.

Tingginya perokok anak ini tidak lepas dari lemahnya penegakan hukum. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 109 tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan, penjual dilarang menjual kepada anak. Praktiknya, tidak pernah ada sanksi bagi mereka yang menjual rokok kepada anak-anak.

Selanjutnya, MTCC UMMagelang menyatakan bahwa perlu sikap tegas Pemerintah Indonesia pada industri rokok. Fakta menunjukkan bahwa industri rokok leluasa merayu generasi muda melalui iklan dan sponsor. Penurunan angka prevalensi rokok anak saat ini hanya bisa diatasi jika akses anak-anak terhadap rokok dijauhkan. Indonesia juga satu-satunya negara di Asia Tenggara yang masih mengizinkan iklan tembakau langsung di televisi dengan hanya pembatasan larangan iklan radio dan televisi pada siang hari. Generasi muda negara ini terpapar iklan rokok di toko, papan iklan, dan internet, serta melalui sponsor untuk konser musik, liga olahraga, dan acara. Fakta ironis lainnya adalah Indonesia menjadi satu dari delapan negara di dunia yang belum menandatangani Konvensi Kerangka Kerja Organisasi Kesehatan Dunia tentang Pengendalian Tembakau, yang mencakup pembatasan pada perusahaan tembakau kelompok lobi dan penjualan kepada anak-anak .

Belum lagi kebijakan Pemerintah Indonesia yang melakukan pendekatan berbeda terhadap rokok elektronik (e-rokok atau vape). Vaping telah menjadi alternatif populer bagi warga muda Indonesia, dengan menerapkan pajak 57 persen lebih tinggi untuk tembakau cair (semestinya sama juga perlakuan untuk industri rokok biasa).

Data Balitbang Kesehatan Kementerian Kesehatan pada 2019, juga menjadi perhatian MTCC UMMagelang. Kebijakan kenaikan cukai rokok diperkirakan bakal mendatangkan pemasukan hingga Rp173 triliun ke kas negara pada 2020. Meski begitu, kenaikan cukai ini sebenarnya kontras dengan kerugian ditanggung negara akibat penyakit yang disebabkan rokok. Kerugian akibat penyakit yang berkaitan dengan rokok mencapai Rp4.180,27 triliun. Kerugian itu dihitung dari nilai produktivitas yang hilang karena penyakit. Kenaikan biaya cukai rokok yang kerap kali dilakukan pemerintah dinilai tidak akan efektif apabila rokok masih bisa diperjualbelikan secara eceran. Kenaikan cukai rokok semestinya dibarengi dengan pembatasan penjualan untuk anak-anak dibawah 18 tahun. Salah satu hal yang semestinya dilakukan pemerintah untuk dapat menekan jumlah perokok di Indonesia, yakni dengan tidak melakukan penjualan rokok secara eceran atau per batang.

MTCC UM Magelang terus mendorong kepala daerah untuk menetapkan dan menegakkan regulasi Kawasan Tanpa Rokok (Perda KTR). Apalagi di masa pandemik Covid-19 ini, perda menjadi kampanye kepada masyarakat akan bahaya asap rokok dan akibat buruknya pada penurunan ketahanan tubuh dalam antisipasi virus.

Sampai saat ini hasil pendampingan MTCC UM Magelang terhadap kota dan kabupaten yang telah menerapkan perda KTR dari 20 kota/kabupaten ada 5 kabupaten dan 1 kota yg sudah menerapkan yaitu Kota Surakarta, Kab Batang, Pati, Karanganyar, Banjarnegoro, dan Tegal serta Kab Pemalang dan Kab Purbalingga diharapkan akan segera menyusul kabupaten dan kota Magelang karena audiensi dan komunikasi tetap terus dilaksanakan.

MTCC UMMagelang menyatakan bahwa upaya menekan jumlah perokok anak (generasi muda) harus menjadi agenda bersama, baik pemerintah dan masyarakat secara komprehensif. Karena itu, semua program kerja kementerian harusnya sinkron dengan upaya penurunan jumlah perokok anak.  Jadi, bukan hanya melakukan edukasi dan meningkatkan kesadaran masyarakat saja, namun juga diperlukan peraturan yang kuat dan penegakan hukum yang tegas. Komitmen lain dari MTCC UMMagelang adalah terus mendorong kepala daerah untuk menetapkan dan menegakkan regulasi Kawasan Tanpa Rokok (Perda KTR). Apalagi di masa pandemic Covid 19 ini, Perda menjadi kampanye kepada masyarakat , akan bahaya asap rokok dan akibat buruknya pada penurunan ketahanan tubuh dalam antisipasi virus.
Rangkaian peringatan HTTS ditutup dengan giat pada Sabtu malam 30 Mei 2020 dengan dilaksanakannya gelar budaya amal Muhammadiyah secara virtual. Beberapa tokoh budaya dan tokoh Muhammadiyah seperti Prof.Haidar Nashir, Prof Syafii Ma’arif, Sandiaga Uno, budayawan pengusaha dan tokoh lainnya berorasi, share film, share puisi.

Rinta Zahra




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *