Kenali 5 Gangguan Kesehatan Mental pada Anak

Masalah kesehatan mental bisa dialami siapapun, termasuk anak dan remaja. Namun, orang tua kerap tidak sadar bahwa anak memiliki masalah kesehatan mental.

Psikolog anak dan remaja Annelia Sari Sani mengatakan, gejala gangguan mental pada remaja muncul secara diam-diam.

Sulit membedakan antara fluktuasi perilaku anak dengan gangguan mental.
Namun, perlu diingat, seringan apa pun, jika tak diatasi dengan baik, gangguan mental akan berlanjut dan lebih parah.

“Tadinya areanya di masalah belajar lalu menyentuh area lain seperti emosi, hubungan sosial, lalu jadi kompleks dan timbul gangguan mental yang besar. Pas dewasa, karena akarnya di masa anak-anak, harus track back, mundur untuk membereskan,” jelas Anne dalam webinar bersama Halodoc, dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional 2020, Kamis (23/7).

Ada berbagai jenis masalah kesehatan mental pada anak dan remaja. Namun, secara umum, gangguan mental bisa dibagi dalam 5 kategori.

1. Masalah perilaku

Masalah perilaku terbagi ke dalam beberapa jenis gangguan mental, seperti berikut.

– ADHD (attention deficit hyperactivity disorder), gangguan pemusatan perhatian. Anak berperilaku impulsif dan hiperaktif.
– Conduct disorder atau kenakalan anak dan remaja. Melansir dari WebMD, conduct disorder adalah gangguan perilaku emosional serius pada anak dan remaja. Anak dengan gangguan ini bisa menampilkan pola perilaku yang mengganggu, ada unsur kekerasan, dan bermasalah dalam mengikuti aturan.
– ODD (oppositional-deviant disorder) atau gangguan perilaku melawan dan membangkang. Gangguan perilaku ini ditandai suasana hati yang mudah marah, mudah tersinggung, sering membantah, serta pendendam.
– Penyalahgunaan NAPZA (narkoba, psikotropika dan zat adiktif lainnya). Menurut Anne, merokok juga termasuk dalam gangguan ini. Tak hanya rokok konvensional, tetapi juga vape.

2. Gangguan emosional-sosial

Gangguan emosional-sosial terbagi lagi ke dalam beberapa jenis, di antaranya:

– Gangguan mood (alam perasaan). Mengutip dari laman Bipolar Care Indonesia, gangguan mood merujuk pada gejala utama berupa perubahan perasaan. Yang cukup umum dikenal berupa depresi (sedih, murung, putus asa) dan mania (perasaan senang berlebihan).
– Gangguan kecemasan (anxiety disorder). Anak juga bisa mengalami cemas. Namun, menyitat situs NHS, bagi sebagian anak, cemas bisa mempengaruhi perilaku dan pemikiran, sehingga cukup mengganggu performa di sekolah, kehidupan di rumah, dan kehidupan sosial mereka.
– Menarik diri dan keterasingan. Anak cenderung menarik diri misalnya karena tidak bisa beradaptasi dengan tuntutan dari lingkungan sosialnya.
– Stres akibat/terkait trauma. Anne berkata, peristiwa bencana dan terorisme di Indonesia turut menjadi stressor yang mengakibatkan angka stres pada anak cukup tinggi.

3. Gangguan relasi orang tua-anak-keluarga.

Relasi anak dan orang tua serta anggota keluarga lainnya turut membentuk resiliensi anak terhadap tantangan atau masalah yang dihadapi.

4. Gangguan perkembangan belajar

Gangguan perkembangan belajar terbagi lagi ke dalam beberapa jenis seperti berikut.

– Autistic spectrum disorder (ASD). Disebut demikian karena istilah ini menaungi berbagai masalah terkait perkembangan otak dan saraf anak. Variasinya beragam antara lain autisme, sindrom asperger, dan sindrom Heller.
– Skizofrenia masa kanak. Gangguan skizofrenia menimbulkan ciri halusinasi, gangguan bicara, delusi, perasaan datar dan tidak selaras, dan kehilangan kehendak.
– Disabilitas intelektual. Gangguan yang mengakibatkan anak lambat dalam mempelajari hal-hal baru karena kemampuan intelegensi di bawah rata-rata anak seusianya.
– Gangguan belajar spesifik, yang biasanya terkait faktor neurologis (saraf).

5. Gangguan perilaku makan dan perilaku kesehatan
Gangguan ini bisa ditandai dengan anak yang tiba-tiba menolak makan. Hal ini bisa mengakibatkan stunting pada anak.

Source: cnnindonesia.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *