Kemoterapi Dulu Bukan Sebagai Pengobatan Kanker

Kerabat muda bahwa ternyata kemoterapi menjadi pengobatan yang sangat penting bagi para penderita penyakit kanker. Namun, siapa sangka jika awal pengembangannya bukan untuk mengobati penyakit ganas tersebut. Berkembang di awal abad ke 20, kemoterapi awalnya tidak dimaksudkan sebagai pengobatan bagi penyakit kanker yang kini banyak diderita banyak orang di dunia. Menurut dr Ananya Mandal, dokter spesialis Farmakologi Klinis dan asisten profesor di Government Medical College, Benggala Barat, India, kemoterapi awalnya dikembangkan untuk menghentikan pertumbuhan sel-sel darah putih yang membelah dengan cepat. Seperti dilansir dari News Medical Life Science, Kamis (2/7/2020), selama Perang Dunia II, orang-orang yang terkena nitrogen mustard, sel-sel darah putih dalam tubuhnya berkurang secara signifikan. Baca juga: Mengenal Beberapa Pengobatan Kanker Paru, Nomor 4 Paling Baru Selanjutnya, temuan ini mengarahkan para peneliti untuk menyelidiki apakah agen mustard ini dapat digunakan untuk menghentikan pertumbuhan sel yang membelah dengan cepat, seperti kanker. Dr Mandal mengungkapkan pada tahun 1940-an, dua ahli farmakologi dari Yale, Alfred Gilman dan Louis Goodman meneliti efek terapi agen mustard ini dalam mengobati limfoma, yakni kanker yang disebabkan mutasi pada DNA sel-sel limfosit atau sel darah putih. Uji coba dilakukan pertama-tama dengan memberi limfoma pada tikus dan menunjukkan bahwa agen tumor dapat diobati dengan agen mustard.

Selanjutnya, bersama ahli bedah toraks yakni Gustav Lingkog, Gilman dan Goodman menyuntikkan gas mustard yang tidak mudah menguap yang disebut mustine (nitrogen mustard) ke pasien yang menderita limfoma non-hodgkin. Para ilmuwan kemudian menemukan bahwa massa tumor pasien berkurang secara signifikan, selama beberapa minggu setelah perawatan ini. Kendati pasien tersebut harus kembali menerima lebih banyak kemoterapi, namun ini menandai awal penggunaan agen sitotoksik untuk pengobatan kanker. Studi awal dilakukan pada tahun 1943 dan hasilnya dipublikasikan pada tahun 1946.

Penggunaan istilah kemoterapi, seperti dikutip dari jurnal American Association for Cancer Research (AACR), pertama kali diciptakan oleh Paul Ehrlich, seorang ahli kimia yang terkenal asal Jerman pada awal 1990-an. Kontribusi Ehrlich terhadap bidang sains medis telah menjadi dasar berbagai penemuan dan teknologi yang berkembang saat ini. Istilah kemoterapi didefinisikan Ehrlich sebagai penggunaan bahan kimia untuk mengobati penyakit. Bahkan, dia juga yang pertama kalinya mendokumentasikan keefektifan dalam menyaring serangkaian bahan kimia untuk melawan penyakit menggunakan model hewan.

Sebuah prestasi yang memiliki konsekuensi besar bagi pengembangan obat kanker. Kendati demikian, pembedahan dan radioterapi mulai mendominasi bidang terapi kanker hingga tahun 1960-an. Terapi ini kemudian mendorong berkembangnya pengobatan lokal radikal, karena adanya mikrometastasis yang sebelumnya tidak dihargai. Namun, seiring dengan perkembangan sains medis dalam upaya pengobatan kanker, kombinasi kemoterapi ternyata memberi harapan besar akan peluang kesembuhan pasien kanker.

Sumber: Kompas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *