Darurat Energi Terbarukan, Kenaikan Suhu Bumi

Baru-baru ini, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) merilis outlook tahunan dan memprediksi suhu bumi akan naik sekitar 1 sampai 1,5 derajat celcius setiap tahun pada lima tahun ke depan. Padahal, menurut rilis berjudul WMO Global Annual to Decadal Climate Update for 2020-2024 tersebut, tahun 2014 hingga 2019 sudah merupakan tahun terhangat. Bisa dibayangkan betapa hangatnya bumi lima tahun mendatang? Sejumlah negara-negara di dunia, termasuk Indonesia, sebenarnya sudah meratifikasi Paris Agreement atau Kesepakatan Paris. Paris Agreement ini merupakan konferensi tingkat tinggi (KTT) untuk mencegah kenaikan suhu global lebih lanjut sejak sebelum Revolusi Industri. Untuk menyegarkan ingatan pembaca, dalam Paris Agreement tersebut, terbentuk kesepakatan untuk menjaga kenaikan suhu bumi di bawah 2 derajat celsius dari masa sejak Revolusi Industri. Kalau pun bisa, kenaikan suhu bumi dijaga agar tidak naik 1,5 derajat celcius sejak Revolusi Industri. Kesekapatan tersebut harusnya sudah dimulai pada 2021. Bahkan sejak Paris Agreement diratifikasi, ada KTT perubahan iklim lanjutan dari PBB bernama COP25 di Madrid, Spanyol. COP25 sedianya digelar untuk mempercepat aksi dalam mencegah kerusakan iklim akibat pemanasan global. Namun, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres kecewa dengan hasilnya.
Guterres menganggap hasil dari COP25 kurang mengikat dan cenderung mengambang terhadap sejumlah negara penyumbang emisi gas rumah kaca (GRK). Emisi GRK inilah biang keladi terhadap perubahan iklim dan naiknya suhu global. Maka, bila membandingkan target capaian Paris Agreement dengan prediksi kenaikan suhu bumi, kiranya kita telah mencapai tahap peringatan. Apakah kita akan terus meningkatkan produksi emisi GRK melalui aktivitas manusia yang sekarang ini kurang ramah lingkungan, atau ikut menekan kenaikan suhu bumi dengan berbagai cara. Beberapa waktu lalu, Panel Antar-Pemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) merilis laporan bahwa 54,6 persen peningkatan emisi GRK berasal dari pembakaran minyak bumi dan proses industri. Sektor energi menyumbang emisi sebesar 33,6 persen sedangkan sektor industri menyumbang sekitar 21 persen. Sektor penyumbang emisi terbesar lain adalah pengalihan lahan, petanian, dan perhutanan dengan kontribusi sebesar 24 persen. Sedangkan transportasi menyumbang sekitar 14 persen dari total emisi global. Sisanya, 6,4 persen, disumbang oleh sektor bangunan.

Di Indonesia, tren kenaikan produksi emisi GRK terus mengalami peningkatan. Dalam kurun waktu 2000 hingga 2016, emisi GRK rata-rata naik 5 persen setiap tahun. Kini, produksi emisi GRK sudah mencapai 556 juta ton setara karbon dioksida berdasarkan Outlook Energi Indonesia 2018 yang dirilis oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Dari total emisi tersebut, sebesar 48 persen disumbang oleh pembangkit listrik. Transportasi dan industri menyumbang masing-masing 21 persen dari total emisi GRK. Dilansir dari Kompas.com, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengkaji dan mengamati suhu di Jakarta sejak zaman pendudukan Belanda hingga sekarang atau kurang lebih selama 150 tahun. Data tersebut menunjukkan adanya peningkatan suhu rata-rata yang signifikan yaitu 1,6 derajat celcius dari tahun 1866 hingga 2012. Laju peningkatan suhu tersebut cukup dapat dibandingkan dengan hasil analiis WMO, yaitu kenaikan suhu global sebesar 1,1 derajat celcius sejak masa sebelum Revolusi Industri pada 1850-1900, yang dijadikan sebagai garis dasar periode acuan perubahan iklim global.

Energi terbarukan Upaya penanganan kenaikan suhu global dan kerusakan iklim harus dilakukan saat ini juga. Kenaikan suhu global tidak bisa disetop saat ini juga seperti menginjak rem darurat. Kenaikan global harus dilakukan secara bertahap dan secara gradual. Pada awal-awal pandemi, ketika seluruh negara menghentikan sebagian besar roda perekonomian, kita melihat langit biru yang cerah tanpa dibalut awan medung polusi. Kini, langit biru kita berubah kembali menjadi hitam berkabut, terutama wilayah Jakarta, karena roda perekonomian mulai digenjot kembali. Pandemi ini mengajarkan kepada kita bahwa tindakan sekecil apa pun akan mengubah keadaan bumi. Apalagi jika perubahan secara masif dilakukan, maka bukan tidak mungkin bumi akan tetap menjadi bumi yang ramah huni yang akan kita wariskan kepada anak cucu kita kelak. Energi terbarukan merupakan solusi paling tepat dan cepat agar kenaikan suhu global dan perubahan iklim dapat segera dihentikan. Seperti data yang telah didpaparkan sebelumnya, pembangkit listrik sangat mendominasi produksi emisi global. Apalagi, produsen-produsen otomotif dunia sudah mulai memperkenalkan kendaraan listriknya masing masing.

Mayoritas penduduk dunia di masa depan, diprediksi akan menggunakan kendaraan listrik entah itu mobil listrik atau motor listrik. Beberapa negara bahkan sudah menyiapkan regulasi terbaru ihwal kendaraan listrik dan sudah menyiapkan stasiun pengisian baterai untuk kendaraan listrik
Ini merupakan kabar baik sekaligus kabar buruk. Kabar baiknya adalah kontribusi emisi GRK dari sektor transportasi akan ditekan jika mayoritas penduduk bumi menggunakan kendaraan listrik.
Kabar buruknya dalah jika negara-negara di dunia masih bergantung pada pembangkit listrik berbahan bakar fosil akan semakin meningkatkan produksi emisi GRK global.
Seperti yang telah kita ketahui, mobil listrik membutuhkan listrik sebagai tenaga penggeraknya atau untuk mengisi ulang baterainya. Listrik, seperti yang kita ketahui, dihasilkan dari pembangkit listrik.
Maka apa jadinya jika konsumsi energi listrik melonjak drastis? Jawabannya adalah meningkatkan jumlah pembangkit listrik.
Jika pembangkit listrik di bumi sudah begitu polutan, maka apa jadinya jika pembangkit listrik dari fosil semakin ditambah? Tentu saja dunia akan semakin polutan. Belum lagi jumlah penduduk bumi yang semakin meningkat sehingga konsumsi listrik akan semakin meningkat.
Suka tidak suka, pemerintah di seluruh dunia harus mulai bergeser ke energi terbarukan. Di tengah pandemi Covid-19, investasi di seluruh sektor anjlok. Namun di tengah pandemi ini, sektor energi terbarukan masih mencatatkan investasi yang cukup meyakinkan.
International Energy Agency (IEA) baru-baru ini merilis total investasi di masa pandemi virus corona pada kuarter pertama 2020.
Investasi terhadap batu bara, minyak, gas, dan nuklir anjlok bahkan minus. Sebagai contoh investasi sektor batu bara -7,7 persen, gas -5 persen, minyak bumi -9,5 persen dan nuklir -2,5 persen. Sedangkan investasi di sektor energi terbarukan naik 0,8 persen.
Meski kenaikannya sangat kecil, kita patut bersyukur karena investasi dari sektor energi fosil pertumbuhannya justru minus.
Semoga ini merupakan harapan yang menjanjikan untuk semakin mengembangkan EBT di seluruh dunia supaya kita masih bisa mewariskan bumi yang masih layak huni kepada anak cucu kita kelak. Karena, jika pengembangan EBT tidak dilakukan mulai dari sekarang, mau kapan lagi kita mulai?
Kenaikan suhu bumi sudah di ambang mata, maka pengembangan EBT juga harus darurat dikembangkan.

Sumber: Kompas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *