Search

BPBD Temukan Sejumlah Titik Retakan Baru Pasca Banjir Bandang Salamkanci

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang temukan 7 titik yang terdeteksi retak pasca banjir bandang di Dusun Semen Desa Salamkanci Kecamatan Bandongan Kabupaten Magelang.

Dengan temuan itu, maka fokus penanganan pasca banjir adalah membuka akses jalan air.

“Target saya hari ini, Minggu, (red) selesai, agar kawan-kawan lebih fokus,” demikian disampaikan Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Magelang, Edy Susanto di sela kerja bakti pasca banjir bandang, Minggu (1/3/2020).

Edy mengatakan, setelah akses air selesai ditangani, penanganan berikutnya adalah membuka akses jalan yang licin karena berlumpur. Hal itu dilakukan karena Senin (2/3/2020), anak-anak sudah mulai sekolah dan ibu-ibu rumah tangga banyak yang ke pasar. Warga yang lain juga harus memulai aktivitas seperti biasa.

“Jadi agar semua bisa terlayani, jalan sudah mulai finishing, digelontor supaya tidak licin,” kata Edy.

Setelah air dan akses jalan tertangani, imbuh Edy, maka pihaknya bersama-sama dengan yang lain baik TNI, Polri dan  relawan akan mulai membantu warga membersihkan rumah yang kemasukan lumpur.

“Kami bersama relawan TNI, Polri  tentu akan membantu warga membersihkan rumah-rumah warga yang kemasukan lumpur akibat banjir bandang,” imbuh Edy.

Edy mengungkapkan, banjir bandang yang terjadi di dusun Semen Salamkanci, Sabtu (29/2/2020) bukan dari sungai, melainkan akumulasi dari saluran air yang ada di dusun yang terletak di gunung Payung.

“Saya tadi naik dan melihat banyak saluran air sehingga terakumulasi dan ke bawah menjadi besar,” ungkapnya.

Ia menambahkan, dari referensi yang dibaca, dari akumulasi itu terjadi pendanauan karena adanya tanah longsor dan menutup beberapa aliran air.

“Sehingga terakumulasi dan tercampur dengan lumpur kemudian bergerak liar, turun dan akhirnya terjadi banjir bandang. Ini juga dipicu hujan yang turun selama tiga hari perturut-turut,” paparnya.

Namun demikian, kata Edy, banjir bandang sampai bawah mengecil karena vegetasi yang cukup rapat di atas, sehingga mampu menghambat laju air.

“Saya lihat vegetasi pohon bambu di puncak sampai bawah ada yang roboh bahkan sampai lepas. Ini mengurangi laju air, sehingga tidak memperparah, sampai bawah agak reda,” katanya.

Kejadian banjir bandang di dusun ini, menurut Edy sudah yang ketiga kalinya. Menurut informasi yang diperoleh dari warga setempat, terungkap  banjir bandang yang besar terjadi pada 1928 lalu. Saat itu ada beberapa korban jiwa.

Kemudian tahun 2016 lalu juga terjadi banjir yang sama, kendati tidak sebesar kemarin.

“Ada catatan sejarah yang luar biasa, bisa jadi referensi. Longsoran besar dan banjir bandang alurnya hampir sama. Kemarin membentuk jalan baru karena volume besar. Empat tahun lalu juga banjir dan alurnya sama dengan sekarang,” ujarnya.

Edy berjanji, setelah selesai penanganan, maka pihaknya akan mengajak ahli untuk melakukan kajian, kenapa kejadian seperti ini berulangkali terjadi.

“Itulah sebabnya saya harus berani mengatakan, ada daerah-daerah yang sekarang datar dan dibangun perumahan. Padahal dari sejarahnya lokasi itu merupakan aliran air, sehingga suatu saat pasti akan terjadi lagi. Dalam hal ini, Bupati Magelang juga sudah memberikan warning dengan memperketat perizinan perumahan, jangan sampai lokasi yang dibangun suatu saat akan terjadi bencana,” tegasnya.

Seperti diberitakan, pada Sabtu (29/2/2020) sore terjadi banjir bandang di Dusun Semen Desa Salamkanci Kecamatan Bandongan Kabupaten Magelang. Akibat peristiwa itu, sebanyak 118 jiwa terpaksa mengungsi di beberapa titik. Banjir bandang dipicu oleh hujan lebat yang turun selama tiga hari berturut-turut.

 

 

Source: Beritamagelang




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *