Search

Berpikir Bisa Membakar Banyak Kalori. Mitos atau Fakta?

Otak merupakan organ yang menjadi pusat perintah dan sistem saraf manusia. Kecerdasan, kreativitas, emosi, ingatan, dan pergerakan tubuh adalah beberapa dari banyak hal yang diatur oleh otak. Otak manusia bertanggung jawab terhadap pengaturan seluruh badan dan pemikiran manusia. Oleh karena itu terdapat kaitan erat antara otak dan pemikiran informasi yang dipercaya secara luas adalah bahwa berpikir membakar banyak kalori. Namun, benarkah demikian?

Dilansir dari Live Science, Minggu (9/11/2019); kejuaraan catur dunia pada 1984 pernah dibatalkan karena kekhawatiran penyelenggara kompetisi melihat tubuh Anatoly Karpov, seorang pemain elit Rusia, yang mengalami penurunan berat badan hingga 10 kilogram.

Meskipun tidak ada pemain catur lainnya yang mengalami penurunan berat sebanyak Karpov, para pemain elit dilaporkan dapat membakar 6.000 kalori dalam satu hari pertandingan, meskipun merekahanya duduk dan bermain catur.

Otak memang mengonsumsi banyak sekali energi. Ketika tubuh dalam keadaan diam atau tidak terlibat aktivitas apa pun selain bernapas, mencerna, dan menjaga suhu tetap hangat; otak menghabiskan 20 persen hingga 25 persen dari keseluruhan energi tubuh, terutama dalam bentuk glukosa.

Bila dihitung secara kalori, rata-rata otak menggunakan 350 atau 450 kalori per hari untuk wanita atau pria. Penggunaan kalori ini lebih besar selama masa kanak-kanak.

“Dalam usia rata-rata 5-6 tahun, otak dapat menggunakan lebih dari 60 persen energi tubuh,” kata Doug Boyer, seorang profesor antropologi evolusi dari Duke University.

Selain itu, otak juga tidak pernah beristirahat. Ketika tidur pun, ia masih membutuhkan bahan bakar untuk terus mengeluarkan sinyal antar sel yang berfungsi dalam menjaga fungsi tubuh kita.

Karena otak adalah pengguna energi yang sangat besar, secara teknis bisa dikatakan bahwa  semakin banyak Anda menggunakan organ ini, maka semakin banyak juga energi yang akan dipakai untuk mengerjakan tugas yang sulit secara kognitif.

Namun, seperti apakah tugas yang sulit bagi otak?

Claude Messier, profesor psikologi dan ilmu saraf di University of Ottawa, Kanada, mendeskripsikannya sebagai tugas yang tidak bisa diselesaikan otak menggunakan rutinitas yang sudah dipelajari atau pekerjaan yang berubah secara terus menerus.

Tugas ini bisa berupa bermain musik atau permainan catur yang intens. “Ketika Anda berlatih untuk mempelajari sesuatu yang baru, otak Anda beradaptasi untuk meningkatkan transfer energi di daerah [otak] apapun yang diaktifkan oleh pelatihan,” lanjut Messier.

Seiring waktu, ketika Anda menjadi lebih terampil dalam melakukan tugas tertentu, otak tidak lagi bekerja keras untuk menyelesaikannya.

 

 

Source: Kompas

 

 




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *