Apa Kelebihan Spartan Karhutla dari BMKG?

Kerabat Muda for your information nih, dalam upaya mendukung pelaksanaan pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan ( karhutla), Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika ( BMKG) mengeluarkan inovasi terbaru bernama Sistem Peringatan Kebakaran Hutan (Spartan). “Itu inovasi terbaru dari kami (BMKG), semoga bisa bermanfaat buat masyarakat,” kata Agie Wandala Putra selaku Kepala Subbid Peringatan Dini Cuaca BMKG. Agie mengatakan bahwa dalam pelaksanaan pencegahan karhutla, BMKG memang memiliki tugas untuk memberikan segala bentuk informasi yang berhubungan dengan kemungkinan wilayah Indonesia yang berpotensi terjadi karhutla. Di antaranya adalah informasi berupa peta sebaran dan trayektori asap kebakaran hutan, informasi titik api (geohotspot), informasi hari tanpa hujan, informasi potensi pertumbuhan awan hujan, dan informasi sistem peringatan kebakaran hutan atau Fire Danger Rating Sistem (FDRS).

Sistem FDRS Spartan Agie menjelaskan, salah satu informasi BMKG yang selama ini digunakan sebagai indikator daerah dengan potensi kemudahan terjadi kebakaran hutan adalah informasi dari sistem FDRS. Untuk diketahui, FDRS Indonesia ini didasarkan pada sistem Fire Weather Index (FWI) dari Kanada, dengan hanya dua indeks saja di dalamnya. Dalam penggunaannya di Indonesia, kata Agie, telah dilakukan kalibrasi indeks menggunakan catatan historis kondisi kebakaran hutan di Indonesia.

FDRS terdiri dari 6 indeks kerentanan, yang terdiri dari 3 indeks kekeringan lapisan tanah dan 3 indeks perilaku api (fire behaviour). “Masing-masing indeks memiliki kontribusi dalam menggambarkan tiap aspek penting dalam peningkatan potensi terjadinya kebakaran hutan,” kata Agie kepada Kompas.com, Senin (13/7/2020). 3 Indeks kekeringan lapisan tanah Agie menjelaskan, 3 indeks lapisan kekeringan tanah dalam sistem FWI ini terdiri dari indeks Fine Fuel Moisture Code (FFMC), Duff Moisture Code (DMC) dan Drought Code (DC). FFMC merupakan indeks yang menggambarkan tingkat kekeringan dan kemudahan terbakar, seperti dedaunan kering dan alang-alang yang biasanya menutupi lantai hutan.

Sementara itu, DMC adalah indeks yang menggambarkan tingkat kekeringan dan kemudahan terbakar, seperti lapisan tanah organik atau gambut pada kedalaman 5-10 centimeter, serta bahan-bahan kayu ringan berupa ranting-ranting kecil dan semak belukar berkayu di permukaan tanah. Sedangkan, DC adalah indeks yang menggambarkan tingkat kekeringan lapisan tanah organik padat atau gambut yang biasanya berada pada kedalaman lebih dari 10 centimeter. Tidak hanya itu, dalam indeks DC ini juga menggambarkan bahan-bahan kayu berat seperti gelondongan kayu di permukaan tanah. 3 Indeks perilaku api Agie menyebutkan 3 indeks perilaku api ini yaitu Build Up Index (BUI), Initial Spread Index (ISI) dan Fire Weather Index (FWI). BUI merupakan indeks yang menggambarkan potensi jumlah bahan organik mudah terbakar akibat kekeringan. Baca juga: BMKG: Asap Kebakaran Hutan Australia Tidak akan Sampai Indonesia “ISI meunjukkan potensi kecepatan penyebaran api jika terjadi kebakaran hutan,” jelasnya. Sementara, untuk FWI adalah indeks yang menggambarkan potensi intensitas api jika terjadi kebakaran hutan.

Agie berkata, sistem FDRS BMKG ini di tahun 2020 telah mengalami peningkatakan dalam hal resolusi data input. Resolusi data input itu dilakukan dengan mengkombinasikan data pengamatan stasiun-stasiun BMKG dengan data penginderaan jauh. “Data prediksi yang digunakan juga memiliki resolusi yang lebih tinggi dibandingkan sistem sebelumnya,” kata dia. Baca juga: Minyak Kelapa Sawit dan Karhutla di Indonesia, Apa Hubungannya? Resolusi yang lebih tinggi seperti dimaksudkan Agie adalah resolusi spasialnya, dari 27 kilometer menjadi 10 kilometer untuk inputnya. “Secara spasial petanya juga lebih rapat, tersedia data dan informasi untuk setiap provinsi,” jelasnya. Tidak hanya itu, data observasi yang lebih rapat ini berdasarkan stasiusn pengamatan BMKG yang dikombinasikan dengan data remote sensing (satelit). Indeks yang ada juga lebih beragam, ada enam yang membuat antisipasi karhutla lebih baik lagi daripada sebelumnya. Bahkan, peta yang ditampilkan juga mencakup wilayah Asia Tenggara. Sistem FDRS baru inilah yang dinamakan Sistem Peringatan Kebakaran Hutan (Spartan) yang telah dapat diakses masyarakat secara umum di laman www. bmkg.go.id/cuaca/kebakaran-hutan.bmkg.

Sumber: Kompas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *