7 Risiko yang Dihadapi Anak-anak Akibat Pandemi

Pada Kamis (23/7), Indonesia memperingati Hari Anak Nasional di tengah pandemi Covid-19 yang masih terus melanda hingga saat ini. Sejak Maret hingga saat ini, pandemi membawa banyak dampak terhadap kehidupan banyak orang, tak terkecuali anak-anak.

Save the Children memetakan ada tujuh risiko dampak pandemi Covid-19 yang berpotensi dialami anak-anak. Risiko ini muncul akibat situasi serba tak pasti dan berbagai perubahan yang terjadi akibat pandemi.

Risiko ini didapat dari survei daring yang melibatkan 11.989 orang tua dan
4.698 guru di Indonesia, dilengkapi dengan sejumlah data sekunder lainnya. Survei dilakukan pada 10-27 April 2020.

Berikut tujuh dampak yang berisiko dihadapi anak-anak.

1. Hilangnya mata pencaharian orang tua

Sebagaimana diketahui, pandemi Covid-19 memberikan dampaknya terhadap berbagai hal, termasuk ekonomi rumah tangga.

Hasil survei menemukan, sebanyak 72 persen responden mengalami penurunan pendapatan akibat pandemi sehingga sulit memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Bahkan, sebanyak 32 persen responden kehilangan pekerjaan.

2. Sulit mengakses layanan kesehatan dasar

Dampak ekonomi di tingkat rumah tangga sangat memengaruhi pemenuhan kebutuhan dasar anak, mulai dari makanan hingga layanan kesehatan.

Survei menemukan, sekitar 77 persen rumah tangga tak bisa mendapatkan asupan makanan yang layak atau seharusnya.

“Artinya ada sekitar 60 juta anak berusia 0-17 tahun yang terpaksa makan lebih sedikit dari yang seharusnya dikonsumsi,” tulis Save the Children dalam hasil laporannya yang diterima CNNIndonesia.com.

Tak hanya itu, pos pelayanan terpadu (posyandu), yang seharusnya menjadi fasilitas layanan kesehatan dasar anak, juga tidak beroperasi.

Saat ini, lanjut Save the Children, masyarakat dianjurkan untuk tidak mendatangi fasilitas kesehatan bila tidak dalam kondisi darurat. Kondisi ini jelas berdampak pada menurunnya cakupan imunisasi anak.

Cakupan imunisasi diprediksi menurun hingga 30 persen akibat pandemi.

Akibatnya, 10 juta anak berpotensi tidak mendapatkan imunisasi dan rentan terhadap berbagai penyakit yang seharusnya dapat dicegah dengan pemberian vaksin.

3. Tidak bisa mengakses layanan pendidikan berkualitas

Berdasarkan data UNESCO Indonesia per 30 April 2020, terdapat lebih dari 68 kita siswa di Indonesia yang kini menjalani proses belajar jarak jauh.

Sayangnya, hasil survei menemukan sebanyak 77 persen responden guru mengaku bahwa tak semua peserta didik dapat berpartisipasi dalam pembelajaran jarak jauh. Sebanyak 1 dari 3 responden guru juga merasa dukungan orang tua masih kurang.

Tak hanya itu, kendala lain juga muncul dari fasilitas pendukung yang terbatas.
Sebanyak 1 dari 4 responden guru mengeluhkan terbatasnya fasilitas pendukung seperti laptop, ponsel pintar, dan paket data internet.

Hal yang sama juga dialami oleh orang tua (85 persen) dan anak yang mengaku mengalami kendala dalam proses pembelajaran jarak jauh. Sebanyak 22 persen orang tua mengaku tak memiliki fasilitas pendukung yang mumpuni, khususnya bagi mereka yang memiliki lebih dari satu anak.

Selain itu, 2 dari 5 responden orang tua juga mengaku tidak memiliki cukup waktu dan merasa kurang memiliki pengetahuan untuk mendampingi anak belajar.

4. Terbatasnya dukungan bagi anak dengan disabilitas

Sekitar 1,11 persen anak usia 2-17 tahun di Indonesia hidup dengan disabilitas. Saat ini, akses mereka ke informasi dan panduan kesehatan tentang Covid-19 terbilang terbatas.

Anak-anak dengan disabilitas juga berisiko tidak bisa mengakses layanan pendidikan yang berkualitas. “Hal ini disebabkan karena kebutuhan mereka belum tentu bisa difasilitasi dengan baik lewat pembelajaran jarak jauh,” tulis Save the Children.

5. Kehilangan orang tua

Saat ini, data mencatat, 60 persen lebih kasus Covid-19 terjadi pada kelompok usia produktif (30-45 tahun). Di usia ini, umumnya orang di Indonesia telah menikah dan memiliki 1-3 anak.

Kondisi tersebut meningkatkan risiko bagi anak kehilangan orang tuanya yang terinfeksi, diisolasi, dan menjalani perawatan intensif di rumah sakit.

6. Motivasi menurun dan rentan mendapat kekerasan

Kebijakan belajar di rumah memunculkan tantangan bagi anak. Sebanyak 42 persen responden orang tua mengaku motivasi belajar anak kian menurun dari waktu ke waktu selama masa pandemi.

Tak hanya itu, sekitar 10-20 persen responden orang tua juga mengaku anaknya sulit berkonsentrasi, bingung, susah tidur, stres, mudah lelah, dan kesepian.

Berdasarkan pemaparan orang tua, hal tersebut disebabkan oleh banyaknya tugas yang harus dikerjakan dalam waktu sempit, metode belajar yang kurang menyenangkan, dan terbatasnya interaksi dengan teman.

Selain itu, kebijakan belajar dari rumah juga memberikan tantangan bagi orang tua. Dengan konsep tersebut, guru secara tidak langsung mendelegasikan perannya terhadap orang tua. Orang tua yang tidak terbiasa tentu akan kewalahan dengan perubahan pola pembelajaran baru ini.

Kondisi di atas, ditambah banyaknya orang tua yang mengalami tekanan psikologis juga rentan menimbulkan kekerasan pada anak di rumah.

7. Tinggal di kawasan rawan bencana

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, 60-70 persen mayoritas korban bencana di Indonesia merupakan kelompok anak, perempuan, dan lansia.

Oleh karena itu, penting untuk tetap meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan terhadap risiko bencana alam di tengah pandemi Covid-19. Rencana kesiapsiagaan-terutama untuk anak-harus ditetapkan.

Source : cnnidonesia.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *